Masih trauma atas kejadian seminggu lalu. Kejadian yang tidak terduga membuat saya merenung diri. Kejadian yang dialami pada hari kamis, 6 Agustus 2009 merupakan pengalaman sangat berharga buat kita.
Pada hari kamis saya bersama Lela, istriku ke bandung kecuali Luthfi, putraku tidak ikut karena tinggal di bandung cuma satu malam untuk survey lokasi dulu, apa cocok tidak buat usaha digital printing atau usaha baju muslim di dekat rumahku. Ortuku menjaga Luthfi sudah mandiri. Sebelum berangkat Mama mengingatkan bahwa jangan ngebut dan lewat jalan bahu ya, berbahaya!
Saya menggangguk tapi merasa firasat aneh membuat saya tidak enak… lupakan. Saya melihat jam G-Shok pukul 02.00 siang lalu menyalami tangan Mama.ketika sudah berangkat,saya berdoa dalam hati
“Bismillahir-rahmanir-rahim”
“Ya ALLAh Saya memohon keselamatan kepada ALLAH. Tidak ada kekuatanku selain kekuatan ALLAH tidak terbatas. Saya pasrah dan ikhlas.. Ya Amiin” batinku
Lalu masuk ke gerbang tol di Pancoran dan bayar lima ribu lima ratus rupiah. Di jalan tol tidak ada hambatan, saya semangat menginjak gas hingga mobil innova kencang yang dihadiah oleh Papa saya sejak tahun 2005 yang lalu. Kecepatan meningkat 100 kilometer, tanganku dipanggil oleh tangan Lela yang dirasakan mengawasi saya dalam kemudi. Lela mengingatkan.
“80 kilometer aja” kata Lela.
“Jalan masih sepi..lambat itu buang-buang waktu padahal jalan tidak terlalu ramai” kata saya.
Lela diam dan mengalah tapi tetap mengawasi. Saya malah asyik ngebut di jalan tol masih sepi yang mengasyikkan tapi tetap berada di jalur kanan, jangan sering gunakan jalan bahu, berbahaya.
Tidak terasa meski sudah jalan selama 2 jam tapi saya merasa 2 jam dianggap 30 menit. Sudah sampai jalan tol di purwakarta tanpa ada hambatan. Jalam masih sangat sepi membuat saya sering mendahului mobil maupun truk beberapa kali. Semakin bernafsu untuk memacu hingga kecepatan mencapai 140 km. Jantungku merasakan getaran mesin meletup dan berisik kecuali pendengaranku tapi tidak berani memacu dengan kecepatan di atas 180 km karena fitur keselamatan sangat terbatas misalnya tidak ada airbag di penumpang depan dan pengemudi, tidak ada ABS dan fitur keslamatan lain.
Lela mengingatkan lagi
“80 km aja ya?takut ban pecah!” kata Lela khawatir.
“Ya 80 km kalo jalan masih ramai tapi jalan skrg masih sepi.. makanya lebih cepat mencapai di atas 100 km biar hemat waktu” kataku penggemar Formula One dan Moto GP.
Lela diam seperti sudah mengerti dan sering memegang tanganku jika menyalip mobil,bus dan truk. Lela takut dan cemas, batinku
“Jangan khawatir,ga papa” kataku berusaha membuat Lela tenang.
Tinggal 100 km lagi untuk sampai ke bandung. Tiba-tiba lela memegang tanganku cukup keras bikin saya kaget. Lela kayak panik dan mengisyaratkan tangannya bahwa Lela sedang berpikir… hmm ada yang tidak beres? batinku
“Tadi ada suara ban pecah!” kata Lela bak halilintar petir menyambar.
Saya bingung dan tidak percaya.. sungguh saya tidak merasakan apa-apa padahal katanya ban udah pecah? Ternyata Lela benar, innova terasa bergetar sedikit jika kecepatan berkurang. Lalu terpaksa innova berhenti di jalan bahu.
Perasaan dan pikiranku tidak karuan dan jantungku berdetak-detak kencang. Lela panik dan bingung.. tidak tahu apa yang kulakukan karena bandung masih jauh, tidak ada bantuan orang lain dan lalu lintas kendaran masih sepi.. bingung.
“Ayo keluar!cari ban pecah” ajak saya mau keluar dari innova hitam.
“Ya ampuun…” kataku ketika melihat ban belakang kiri kempes dan berasap dari roda.
Rasa bersalah dan menyesal telah mengacaukan perasaan dan pikiranku.. Saya berusaha memenangkan diri malah diperparah oleh Lela sangat panik sambil sering telepon dengan HPnya.
“Kok HP tidak diangkat..ga ada sinyal? kata Lela panik.
“Tenang aja.. Saya bisa perbaiki” kataku berusaha menenangkan Lela ternyata gagal.
Lela masih tidak tenang dan sering mengutak-atik hpnya sambil bicara tidak jelas.
Dengan kesal, Lela menyalakan saya bahwa ban pecah karena ngebut dengan kecepatan 140 km.
Saya membantah bahwa ban pecah mungkin terlalu panas makanya ban harus diganti karena ban sudah kadalaursa. Eh malah bertambah ribut..pusing.
Biarkan aja.. Saya bergegas mengambil peralatan seperti dongkrak buaya, tang inggris dan obeng dari innova untuk mengganti ban kempes. Kemudian saya membuka kunci dengan tang pas yang panjang agar ban cadangan bisa keluar dari bawah mobil tapi merasa kesulitan.. kok ban cadangan tidak bisa keluar, batinku. Padahal sudah belajar dari supir pribadi.
Saya merasakan ada orang datang lalu menoleh pada orang tidak dikenal berjalan ke arah kita, Siapa? Kulihat orang berbaju seragam warna biru dan topi yang bertuliskan petugas jalan tol. Kok petugas jalan tol tahu di mana kita? pikirku.
Kemudian Petugas tersebut membongkar ban cadangan kemudian mengganti ban kempes. Saya ikut membantu sambil belajar. Akhirnya masalah telah selesai.. beban saya terasa ringan.
Saya bersyukur dan lega.. Saya merasa ada ALLAH bersama kita, batinku. Kemudian Lela telah berbincang-bincang pada petugas jalan tol. Lagi-lagi Lela mengingatkan dengan mimik serius
“Jangan ngebut!40 km aja, takut ban pecah lagi” kata Lela.
“kan masih jauh,kira-kira 120 km lagi”
“ya..ya..” kataku sambil manggut-manggut.
Lela telah memberi 50 ribu rupiah pada petugas jalan tol merupakan bentuk terimakasih. Kemudian saya mengendarai innova mulai berjalan pelan-pelan di atas kecepatan 50 km. Tapi kita tetap khawatir kalau-kalau ban sudah berumur 4 tahun mungkin pecah lagi. Ahlamdulillah kita sampai di rumah dengan selamat. Di rumah saya masih merenung kejadian merupakan pelajaran sangat berharga. Pelajaran adalah umur ban sudah habis makanya harus diganti demi keselamatan. Biasanya umur ban cuma 2 tahun.Sebelum perjalanan jauh dimulai, kita jangan lupa berdoa untuk keselamatan pada ALLAH SWT.
Semoga pengalaman saya diambil merupakan pelajaran bagi pembaca budiman
Salam Duuaaasyhat!
wassalam
Agung